@80ro_: نئتيك بلا موعد كن مستعد 😉💯. #foryoupage #الشعب_الصيني_ماله_حل😂😂 #طششونيي🔫🥺😹💞 #yyyyyyyyyyyyyyyyyy #بصره_بغداد_ميسان_ذي_قار_كل_المحافظات

M
M
Open In TikTok:
Region: IQ
Friday 17 October 2025 06:47:53 GMT
132994
7148
91
331

Music

Download

Comments

mk_s232
سـنـلتقي.. 🇧🇪❤️‍🩹 :
تبيع
2025-10-23 18:52:09
0
hmd8573
كۣۗـۙريۣۗہمۣۗـۙ📿 :
الك ءخي ❤
2025-10-21 20:26:49
1
.2494056
ًسًــــــــآجَدد🙆🏻‍♂️🫶🏻 :
All of you for a time
2025-11-22 19:35:23
0
k24_2005
علوان :
الك 💞
2025-11-03 13:00:56
0
x.fac2
‘مؤمل‘🧣ツ :
الذهب أخي❤✨
2025-10-17 16:13:29
1
fush__201
𝑨🦈 :
مبدع اخي جلاله ✨🤍
2025-10-18 12:04:10
3
r_8g67
🥹🥹 ♥️🎼 . :
طريق العوجه مو
2025-11-02 06:07:30
0
user20n1qbaz6
حہسہيہنہ حہسہؤنہيہ :
مرتب عزيزي
2025-10-25 19:04:06
0
bmj_20o
: @♯̶شـ͜غـيـركك🇦🇪..⤹: :
ءكك عمري👌💜
2025-10-24 20:42:58
0
dyqoc0s8tovc
ححمدأآن :
الورد
2025-10-18 16:16:35
1
j__awad10
اجـــود كاظم 😅✨ :
تبيع
2025-11-11 15:03:50
0
9..v4
M :
معدل
2025-10-17 11:55:25
1
hassan.sa55
حسون🍒 :
المرتب 💚💚
2025-10-22 21:40:44
0
_90ay
✞ :
الك😂💙
2025-10-17 07:55:35
2
dosg_1
⚜️ابـوعـلـي⚜️ :
😅👋🏿
2025-10-18 21:49:28
1
04l_8
رضيو بعد˼ 🍃¹ 🇯🇵↻˹ :
يلا خوش😂
2025-10-17 06:49:27
2
user5256315512968
حيادر :
ذهب
2025-10-20 08:28:57
0
19vtz
حسون الشمري 🇯🇵 :
جلاله 😝🙈
2025-10-17 11:39:43
1
7h__789
𝑯𝑨𝑺𝑺𝑨𝑵 :
بطل💯
2025-10-17 08:30:53
3
mr__5333
♯̶مرتَضى⭐️ :
امنيتي🖤
2025-10-19 09:03:41
0
2._t00
أب߬و اࠗلتــــِٰ̲ـٰٚـِْوجۤ☊ :
تبيع
2025-10-17 11:34:17
1
aa78_ao
𝑹 :
معدل❤
2025-10-17 11:52:12
1
75as_
A :
بطل صافي💝
2025-10-17 11:23:56
1
123qwert365
حسوني آل طوفان +*.🚸✅ :
اخوييي🔥❤️‍🩹,.
2025-10-18 13:06:28
1
2ngb_
𝑀 :
قويي 🔥🤎.
2025-10-17 10:00:38
1
To see more videos from user @80ro_, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Wasiat Imam Husain & duka Zainab as Ketika Sayidah Zainab ‘alaihas-salam menyertai abangnya, Imam Husain ‘alaihis-salam, di Karbala, ia bukan sekadar saudari yang berduka, tetapi penopang terakhir dari risalah kenabian. Di malam-malam penuh duka itu, Imam Husain memanggilnya dengan suara lembut: “Yā ukhta Zainab, wahai saudariku Zainab, bersabarlah engkau setelah aku tiada. Jadilah engkau ibu bagi anak-anakku, ibu bagi seluruh keturunan Rasulullah yang tersisa.” Zainab menangis tersedu mendengar kata-kata itu. Namun Imam Husain berkata kepadanya, “Sekarang engkau menangis sedikit, wahai Zainab. Tapi nanti engkau akan menangis lebih banyak setelah kepergianku.” Kata-kata itu menjadi nubuat tentang penderitaan panjang yang akan menanti sang putri Ali. Setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri syahadah Sayyid asy-Syuhadā’, derita Zainab belum berakhir. Justru setelah Karbala, beban terberatnya baru dimulai. Ia menyaksikan tubuh suci para syuhada tergeletak di padang yang kering, kepala-kepala mereka dipenggal dan diarak di ujung tombak, termasuk kepala abangnya tercinta, Husain. Di tengah tumpukan jasad dan tangisan anak-anak yatim, Zainab berdiri tegak — tidak runtuh, tidak menyerah, hanya bersandar kepada Allah. Namun setelah itu, ia harus menanggung penghinaan yang tak pernah dialami oleh keluarga Nabi sebelumnya.  Sayidah Zainab digiring sebagai tawanan perang, bersama anak-anak dan perempuan keluarga Rasulullah. Mereka dipertontonkan di jalan-jalan Kufah dan Syam seolah-olah mereka tawanan dari bangsa asing — seakan-akan mereka bukan Muslim, tetapi tawanan Romawi atau bangsa Dailam. Hijabnya direnggut, wajah sucinya dipamerkan kepada khalayak, dan kerumunan orang-orang yang buta hati melemparkan caci maki kepada putri Ali dan Fatimah, cucu Nabi yang mulia. Bayangkan, perempuan suci dari rumah kenabian itu berjalan tanpa pelindung, di bawah terik matahari padang pasir, dari Karbala ke Kufah sejauh lebih dari 100 kilometer, lalu dari Kufah ke Syam sejauh sekitar 700 kilometer. Selama perjalanan panjang itu, Zainab menjaga anak-anak yatim Husain, menenangkan tangisan mereka, menguatkan hati para ibu yang kehilangan, dan menjadi perisai bagi mereka semua. Dalam kondisi lapar, haus, dan tersiksa, ia tetap tegar. Tidak sekali pun keluhan keluar dari lisannya. Yang terdengar hanyalah dzikir dan kesabaran. Dan di hadapan istana Yazid di Syam, ketika dunia menyaksikan perendahan terhadap keluarga Rasulullah, Zainab berdiri sebagai suara kebenaran, menegur penguasa lalim dengan kata-kata yang mengguncang sejarah. Itulah sebabnya para Imam menyebutnya dengan gelar yang abadi: “Ummul Masaib” — Ibu dari Segala Duka. Sebab, tiada perempuan dalam sejarah yang menanggung sedalam dan sebesar derita Zainab, namun tetap berdiri dengan keagungan iman dan kebesaran jiwa.
Wasiat Imam Husain & duka Zainab as Ketika Sayidah Zainab ‘alaihas-salam menyertai abangnya, Imam Husain ‘alaihis-salam, di Karbala, ia bukan sekadar saudari yang berduka, tetapi penopang terakhir dari risalah kenabian. Di malam-malam penuh duka itu, Imam Husain memanggilnya dengan suara lembut: “Yā ukhta Zainab, wahai saudariku Zainab, bersabarlah engkau setelah aku tiada. Jadilah engkau ibu bagi anak-anakku, ibu bagi seluruh keturunan Rasulullah yang tersisa.” Zainab menangis tersedu mendengar kata-kata itu. Namun Imam Husain berkata kepadanya, “Sekarang engkau menangis sedikit, wahai Zainab. Tapi nanti engkau akan menangis lebih banyak setelah kepergianku.” Kata-kata itu menjadi nubuat tentang penderitaan panjang yang akan menanti sang putri Ali. Setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri syahadah Sayyid asy-Syuhadā’, derita Zainab belum berakhir. Justru setelah Karbala, beban terberatnya baru dimulai. Ia menyaksikan tubuh suci para syuhada tergeletak di padang yang kering, kepala-kepala mereka dipenggal dan diarak di ujung tombak, termasuk kepala abangnya tercinta, Husain. Di tengah tumpukan jasad dan tangisan anak-anak yatim, Zainab berdiri tegak — tidak runtuh, tidak menyerah, hanya bersandar kepada Allah. Namun setelah itu, ia harus menanggung penghinaan yang tak pernah dialami oleh keluarga Nabi sebelumnya. Sayidah Zainab digiring sebagai tawanan perang, bersama anak-anak dan perempuan keluarga Rasulullah. Mereka dipertontonkan di jalan-jalan Kufah dan Syam seolah-olah mereka tawanan dari bangsa asing — seakan-akan mereka bukan Muslim, tetapi tawanan Romawi atau bangsa Dailam. Hijabnya direnggut, wajah sucinya dipamerkan kepada khalayak, dan kerumunan orang-orang yang buta hati melemparkan caci maki kepada putri Ali dan Fatimah, cucu Nabi yang mulia. Bayangkan, perempuan suci dari rumah kenabian itu berjalan tanpa pelindung, di bawah terik matahari padang pasir, dari Karbala ke Kufah sejauh lebih dari 100 kilometer, lalu dari Kufah ke Syam sejauh sekitar 700 kilometer. Selama perjalanan panjang itu, Zainab menjaga anak-anak yatim Husain, menenangkan tangisan mereka, menguatkan hati para ibu yang kehilangan, dan menjadi perisai bagi mereka semua. Dalam kondisi lapar, haus, dan tersiksa, ia tetap tegar. Tidak sekali pun keluhan keluar dari lisannya. Yang terdengar hanyalah dzikir dan kesabaran. Dan di hadapan istana Yazid di Syam, ketika dunia menyaksikan perendahan terhadap keluarga Rasulullah, Zainab berdiri sebagai suara kebenaran, menegur penguasa lalim dengan kata-kata yang mengguncang sejarah. Itulah sebabnya para Imam menyebutnya dengan gelar yang abadi: “Ummul Masaib” — Ibu dari Segala Duka. Sebab, tiada perempuan dalam sejarah yang menanggung sedalam dan sebesar derita Zainab, namun tetap berdiri dengan keagungan iman dan kebesaran jiwa.

About