@onevesper: 🔵 MANCHESTER CITY 3 - 0 LIVERPOOL 🔴 Manchester City menang mudah melawan juara bertahan EPL Liverpool. Walaupun Haaland gagal penalti di menit ke-13' namun City masih tetap bisa menang. Doku cetak gol cantik di laga ini dan di nobatkan sebagai Man of The match. Liverpool sempat mencetak gol lewat Van Dijk melalui sundulan,tapi di anulir wasit karena Andy Robertson dianggap offside serta menghalangi pandangan Donnarumma. Dengan hasil ini City naik ke peringkat ke-2 kelasemen sementara EPL, dan Liverpool harus turun ke peringkat 8 di bawah Manchester United yang ada di peringkat ke-7. #manchesterunited #liverpool #PremierLeague #football #fypシ

𝗩𝗲𝘀𝗽𝗲𝗿ᝰ.ᐟ
𝗩𝗲𝘀𝗽𝗲𝗿ᝰ.ᐟ
Open In TikTok:
Region: ID
Sunday 09 November 2025 18:45:33 GMT
5005
138
3
19

Music

Download

Comments

erfai.pai
PaiPai :
🥰
2025-11-09 20:11:14
1
abcdefghijebret
jappirr :
🥰
2025-11-15 17:33:33
0
bufonitali
.....M...... :
🤣
2025-11-10 09:38:20
0
To see more videos from user @onevesper, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ruang rapat itu awalnya tenang. Sebuah RDP antara Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI pada Rabu 25 Nopember 2025 kemarin, dengan beberapa elemen masyarakat berjalan sebagaimana biasanya—penuh formalitas, penuh kalimat diplomatis, dan penuh janji yang sudah terlalu sering terdengar seperti lagu lama. Namun, ketenangan itu pecah ketika seorang lelaki tua berdiri. Rambutnya memutih, punggungnya sedikit membungkuk, tapi sorot matanya masih tajam seperti kapur yang dulu menari di papan tulis selama puluhan tahun. Ia adalah seorang pensiunan guru SD negeri, seorang P3K yang telah mengabdi 35 tahun 6 bulan. Empat dekade kurang sedikit. Waktu yang cukup panjang untuk menyaksikan generasi berganti, anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa, dan negeri berjalan terseok-seok dalam perubahan. Dengan suara yang tidak keras, namun cukup untuk membuat ruangan membeku, ia berkata, “Saya mengajar lebih dari 35 tahun… tapi saat saya pensiun, saya hanya menerima… nol rupiah.” Nol. Angka paling kecil, juga paling menyakitkan. Kalimat itu melayang seperti batu kecil yang dilemparkan ke danau—gelombangnya memantul ke wajah para pejabat yang duduk tegap, wajah yang berusaha tetap netral namun tak sepenuhnya mampu menyembunyikan keterkejutan. Guru tua itu melanjutkan. “Anehnya, Anggota Dewan yang hanya bekerja satu periode… bisa mendapatkan pensiun seumur hidup. Sementara saya, yang setiap hari mengumpulkan anak-anak, membersihkan ingus mereka, menenangkan tangis mereka, memberi harapan pada masa depan mereka… saya tidak mendapat apa-apa.” Ia tertawa kecil. Bukan tawa bahagia, tetapi tawa getir yang biasa muncul dari seseorang yang sudah terlalu lama menelan kenyataan pahit. “Satu periode saja sudah cukup untuk hidup tenang sampai mati… sementara saya mengabdi tiga dekade lebih, tapi di hari tua, negara berkata: ‘Maaf Pak Guru, uangmu nihil’.” Suasana ruang rapat menjadi kental. Para petinggi yang tadinya sibuk dengan berkas dan ponsel, mulai menatapnya. Tak ada yang berbicara. Kata-kata guru itu terlalu tajam untuk langsung dibalas, terlalu jujur untuk diabaikan. Lelaki itu kembali berbicara, suaranya semakin mantap. “Saya juga ingin bertanya… kenapa seorang Kepala Desa yang menjabat satu atau dua periode bisa menerima uang pensiun dan bahkan tanah bengkok? Tanah yang bisa digarap, bisa menghasilkan. Mengapa penghargaan bagi mereka begitu jelas, sementara penghargaan untuk guru… hanya sebuah angka bulat, 0?” Ia menghela napas panjang. Napas seorang ayah bangsa kecil, yang pernah memegang tangan ratusan anak, tapi kini tangannya sendiri terasa kosong. “Bukankah guru adalah pekerjaan yang katanya ‘mulia’? Bukankah kami yang mencetak dokter, polisi, pejabat, bahkan anggota dewan yang duduk di kursi ini?” Ia menatap satu per satu mereka, seakan ingin memastikan kalimat itu tidak hanya terdengar, tetapi masuk ke hati. “Kalau guru yang mencerdaskan bangsa kalian saja tidak dihargai, bagaimana mau berharap negeri ini jadi baik?” Beberapa orang mulai menunduk. Entah karena tersentuh, atau karena tidak siap menatap cermin yang baru saja diletakkan di depan wajah mereka. Guru itu menutup dengan satu kalimat sederhana—kalimat yang mengguncang seluruh ruangan. “Saya ini pensiunan, Pak… tapi saya masih manusia. Saya masih perlu makan.” Dan tiba-tiba, semua gelar, kursi empuk, dan mikrofon mewah itu terasa kecil sekali di hadapan seorang guru yang pulang dari medan pengabdian dengan tangan kosong. Semoga Hari Guru masih memiliki Makna Wallahu 'Alam Bisshowab By Shadow #fyp #fypindonesiaシ #gurup3k #renungankehidupan #harigurunasional
Ruang rapat itu awalnya tenang. Sebuah RDP antara Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI pada Rabu 25 Nopember 2025 kemarin, dengan beberapa elemen masyarakat berjalan sebagaimana biasanya—penuh formalitas, penuh kalimat diplomatis, dan penuh janji yang sudah terlalu sering terdengar seperti lagu lama. Namun, ketenangan itu pecah ketika seorang lelaki tua berdiri. Rambutnya memutih, punggungnya sedikit membungkuk, tapi sorot matanya masih tajam seperti kapur yang dulu menari di papan tulis selama puluhan tahun. Ia adalah seorang pensiunan guru SD negeri, seorang P3K yang telah mengabdi 35 tahun 6 bulan. Empat dekade kurang sedikit. Waktu yang cukup panjang untuk menyaksikan generasi berganti, anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa, dan negeri berjalan terseok-seok dalam perubahan. Dengan suara yang tidak keras, namun cukup untuk membuat ruangan membeku, ia berkata, “Saya mengajar lebih dari 35 tahun… tapi saat saya pensiun, saya hanya menerima… nol rupiah.” Nol. Angka paling kecil, juga paling menyakitkan. Kalimat itu melayang seperti batu kecil yang dilemparkan ke danau—gelombangnya memantul ke wajah para pejabat yang duduk tegap, wajah yang berusaha tetap netral namun tak sepenuhnya mampu menyembunyikan keterkejutan. Guru tua itu melanjutkan. “Anehnya, Anggota Dewan yang hanya bekerja satu periode… bisa mendapatkan pensiun seumur hidup. Sementara saya, yang setiap hari mengumpulkan anak-anak, membersihkan ingus mereka, menenangkan tangis mereka, memberi harapan pada masa depan mereka… saya tidak mendapat apa-apa.” Ia tertawa kecil. Bukan tawa bahagia, tetapi tawa getir yang biasa muncul dari seseorang yang sudah terlalu lama menelan kenyataan pahit. “Satu periode saja sudah cukup untuk hidup tenang sampai mati… sementara saya mengabdi tiga dekade lebih, tapi di hari tua, negara berkata: ‘Maaf Pak Guru, uangmu nihil’.” Suasana ruang rapat menjadi kental. Para petinggi yang tadinya sibuk dengan berkas dan ponsel, mulai menatapnya. Tak ada yang berbicara. Kata-kata guru itu terlalu tajam untuk langsung dibalas, terlalu jujur untuk diabaikan. Lelaki itu kembali berbicara, suaranya semakin mantap. “Saya juga ingin bertanya… kenapa seorang Kepala Desa yang menjabat satu atau dua periode bisa menerima uang pensiun dan bahkan tanah bengkok? Tanah yang bisa digarap, bisa menghasilkan. Mengapa penghargaan bagi mereka begitu jelas, sementara penghargaan untuk guru… hanya sebuah angka bulat, 0?” Ia menghela napas panjang. Napas seorang ayah bangsa kecil, yang pernah memegang tangan ratusan anak, tapi kini tangannya sendiri terasa kosong. “Bukankah guru adalah pekerjaan yang katanya ‘mulia’? Bukankah kami yang mencetak dokter, polisi, pejabat, bahkan anggota dewan yang duduk di kursi ini?” Ia menatap satu per satu mereka, seakan ingin memastikan kalimat itu tidak hanya terdengar, tetapi masuk ke hati. “Kalau guru yang mencerdaskan bangsa kalian saja tidak dihargai, bagaimana mau berharap negeri ini jadi baik?” Beberapa orang mulai menunduk. Entah karena tersentuh, atau karena tidak siap menatap cermin yang baru saja diletakkan di depan wajah mereka. Guru itu menutup dengan satu kalimat sederhana—kalimat yang mengguncang seluruh ruangan. “Saya ini pensiunan, Pak… tapi saya masih manusia. Saya masih perlu makan.” Dan tiba-tiba, semua gelar, kursi empuk, dan mikrofon mewah itu terasa kecil sekali di hadapan seorang guru yang pulang dari medan pengabdian dengan tangan kosong. Semoga Hari Guru masih memiliki Makna Wallahu 'Alam Bisshowab By Shadow #fyp #fypindonesiaシ #gurup3k #renungankehidupan #harigurunasional

About