@guntur.novyan29: Lepas landas ketua 🫡 #agstyle #alugoro #1kmkagakngejim

𝗚𝘂𝗻𝘁𝘂𝗿_𝗥𝗡
𝗚𝘂𝗻𝘁𝘂𝗿_𝗥𝗡
Open In TikTok:
Region: JP
Thursday 13 November 2025 14:05:50 GMT
8187
698
22
115

Music

Download

Comments

antanostra______
ANTANOSTRA :
ukuran gear bang?
2025-11-21 10:05:49
1
saboy77dn
Adityaeka :
gacor ketuaaa
2025-11-22 13:33:14
0
rojulmr1
rojulmr :
Halo om
2025-11-13 14:27:23
1
caturps96
caturps :
eitsss🫸
2025-11-13 14:16:48
2
zeussukakzr1
hyy.citohh🩷 :
ke minggir en mas ati"😭
2025-11-13 20:19:51
0
mtiwangg6
mtiwangg, :
jelas mari nek ngobati loro ati😍
2025-11-13 14:22:55
1
silvister.louiss
Babz :
kapan ndue motor ngene iki yo🥹
2025-11-13 14:46:58
0
dr44.19_
maschan :
inpo mentahan ms😁
2025-11-14 11:56:08
0
rijamuhammad021
EJOT_021 :
terbang mas😍
2025-11-19 14:46:20
0
nyooo132_
nyooo132_ :
😍
2025-11-13 14:12:05
1
p4sshaa_
-p :
🤗
2025-11-14 02:04:02
0
akbrrrajh
Barboy✌🏻 :
Awas jatoh😘
2025-11-14 00:59:39
1
bimaadanu
bJo :
🔥
2025-11-23 10:04:02
0
To see more videos from user @guntur.novyan29, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV : Keluarga besar Park memenuhi ruang makan malam itu. Meja panjang dengan lilin-lilin elegan, hidangan mewah, dan tatapan dingin orang-orang penting yang sama sekali tidak terasa seperti keluarga. Suasana kaku. Tak ada percakapan hangat. Hanya bunyi sendok dan pisau beradu dengan piring. Kamu duduk di samping Sunghoon sesuai permintaan keras darinya. Dan dari tadi, ia tidak makan. Hanya memperhatikanmu. Siku Sunghoon bertumpu di meja, satu tangan menopang wajahnya. Tatapannya mengikuti setiap gerakanmu saat kamu menikmati kue stroberi yang manis. “Kamu suka?” tanyanya pelan, seolah hanya kamu yang ada di ruangan ini. Kamu mengangguk sambil mengunyah. “Enak banget.” ^^ Sunghoon tersenyum kecil… senyum yang hanya kamu lihat saat kalian berdua saja. Ibunya yang duduk di ujung meja menatap keduanya ketus. “Kau tidak akan ikut rapat keluarga setelah makan?” Nada suaranya datar, menyindir. Tanpa menoleh, Sunghoon menjawab dingin, “Tidak.” Mendengar hal itu pun, ayah Sunghoon meletakkan gelas dengan keras. “Jangan buat masalah, Sunghoon.” “Aku tidak tertarik.” Suara Sunghoon terdengar tajam, berbeda jauh dari saat bicara padamu. Kamu berhenti mengunyah, tegang mendengar nada itu. Sang ayah menahan emosi. “Kau ini pewaris. Kau harus—” “Aku sudah bilang.” Sunghoon memotong, matanya kini menatap lurus ke arah ayahnya, dingin seperti es. “Kalau kalian ingin aku tetap di perusahaan… hormati istriku.” Ruangan hening seketika. Kamu menatapnya, tidak percaya ia akan mengatakan itu. Apalagi di depan keluarga sebesar ini. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia menyentuh kepalamu dengan lembut, merapikan poni yang jatuh. “Aku di sini untuknya.” bisiknya jelas. Lalu ia kembali menatapmu dengan mata yang langsung melunak. “Ayo habisin kuenya,” suara manja kembali, seolah tak ada yang baru saja terjadi. “Aku senang lihat kamu makan.” Kamu akhirnya bertanya lirih, “Kamu nggak apa-apa?” Sunghoon tersenyum… senyum pahit namun penuh keyakinan. “Kalau kamu di sini…” Ia menggenggam tanganmu di bawah meja, kuat, seolah takut kamu akan hilang. “…aku selalu baik-baik saja.” Tangannya sedikit bergetar. Dan barulah kamu benar-benar melihat: Di balik itu semua, ada seorang laki-laki yang hanya ingin dicintai… meski caranya salah. Tatapan para anggota keluarga Park menusukmu. Kamu bisa merasakannya, mereka tidak suka kamu ada di sini. Tidak suka Sunghoon berubah karena kamu. Sunghoon mengetahuinya juga. Tiba-tiba, ia mendekatkan wajahnya ke arahmu sedikit… Senyumnya lembut — namun matanya gelap. “Kalau mereka menyakitimu…” bisiknya pelan dengan nada yang hanya kamu bisa dengar, “…aku akan hancurkan semuanya.” Jari-jarinya mengusap punggung tanganmu di bawah meja, gerakannya pelan — tapi terasa mengancam. Seolah ia bisa melakukan apa pun… demi kamu. Ibunya menatapmu sinis. “Kami tidak membesarkan Sunghoon untuk—” Sunghoon langsung berdiri dari kursinya. Kursinya bergeser keras hingga seluruh perhatian tertuju padanya. Jantungmu ikut membeku. Ia menaruh tangan di bahumu, posesif. Tatapannya menusuk ibunya tajam. “Kalian tidak membesarkan aku sama sekali.” Nada suaranya rendah, penuh kebencian yang bertahun-tahun terkubur. Lampu gantung memantulkan kilau dingin pada matanya. “Aku bukan milik keluarga ini lagi.” Tangannya menggenggam bahumu lebih kuat. “Aku miliknya.” Semua terdiam. Nafasmu tercekat. Kata-kata itu… bagimu terdengar indah dan menakutkan di waktu yang bersamaan. Sunghoon menunduk ke arahmu perlahan… Senyumnya kembali lembut, tapi bahaya masih jelas di baliknya. “Ayo, sayang,” bisiknya penuh kepemilikan, “aku nggak mau kamu berada di tempat yang menyakitimu.” Tanpa menunggu jawaban, ia menarikmu bangkit. Satu tangan merengkuh pinggangmu erat. Terasa seperti kamu adalah satu-satunya yang menjaga kewarasannya. Sebelum pergi, ia berbisik ke seluruh ruangan— “Jika kalian ingin perang…” matanya melirik setiap wajah anggota keluarga Park, “…aku sudah siap dari dulu.” Dan ia membawa kamu pergi dari meja itu. Seolah dunia hanya berisi kalian berdua— dan siapapun yang menghalangi… akan hilang. #enhypen #sunghoon
POV : Keluarga besar Park memenuhi ruang makan malam itu. Meja panjang dengan lilin-lilin elegan, hidangan mewah, dan tatapan dingin orang-orang penting yang sama sekali tidak terasa seperti keluarga. Suasana kaku. Tak ada percakapan hangat. Hanya bunyi sendok dan pisau beradu dengan piring. Kamu duduk di samping Sunghoon sesuai permintaan keras darinya. Dan dari tadi, ia tidak makan. Hanya memperhatikanmu. Siku Sunghoon bertumpu di meja, satu tangan menopang wajahnya. Tatapannya mengikuti setiap gerakanmu saat kamu menikmati kue stroberi yang manis. “Kamu suka?” tanyanya pelan, seolah hanya kamu yang ada di ruangan ini. Kamu mengangguk sambil mengunyah. “Enak banget.” ^^ Sunghoon tersenyum kecil… senyum yang hanya kamu lihat saat kalian berdua saja. Ibunya yang duduk di ujung meja menatap keduanya ketus. “Kau tidak akan ikut rapat keluarga setelah makan?” Nada suaranya datar, menyindir. Tanpa menoleh, Sunghoon menjawab dingin, “Tidak.” Mendengar hal itu pun, ayah Sunghoon meletakkan gelas dengan keras. “Jangan buat masalah, Sunghoon.” “Aku tidak tertarik.” Suara Sunghoon terdengar tajam, berbeda jauh dari saat bicara padamu. Kamu berhenti mengunyah, tegang mendengar nada itu. Sang ayah menahan emosi. “Kau ini pewaris. Kau harus—” “Aku sudah bilang.” Sunghoon memotong, matanya kini menatap lurus ke arah ayahnya, dingin seperti es. “Kalau kalian ingin aku tetap di perusahaan… hormati istriku.” Ruangan hening seketika. Kamu menatapnya, tidak percaya ia akan mengatakan itu. Apalagi di depan keluarga sebesar ini. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia menyentuh kepalamu dengan lembut, merapikan poni yang jatuh. “Aku di sini untuknya.” bisiknya jelas. Lalu ia kembali menatapmu dengan mata yang langsung melunak. “Ayo habisin kuenya,” suara manja kembali, seolah tak ada yang baru saja terjadi. “Aku senang lihat kamu makan.” Kamu akhirnya bertanya lirih, “Kamu nggak apa-apa?” Sunghoon tersenyum… senyum pahit namun penuh keyakinan. “Kalau kamu di sini…” Ia menggenggam tanganmu di bawah meja, kuat, seolah takut kamu akan hilang. “…aku selalu baik-baik saja.” Tangannya sedikit bergetar. Dan barulah kamu benar-benar melihat: Di balik itu semua, ada seorang laki-laki yang hanya ingin dicintai… meski caranya salah. Tatapan para anggota keluarga Park menusukmu. Kamu bisa merasakannya, mereka tidak suka kamu ada di sini. Tidak suka Sunghoon berubah karena kamu. Sunghoon mengetahuinya juga. Tiba-tiba, ia mendekatkan wajahnya ke arahmu sedikit… Senyumnya lembut — namun matanya gelap. “Kalau mereka menyakitimu…” bisiknya pelan dengan nada yang hanya kamu bisa dengar, “…aku akan hancurkan semuanya.” Jari-jarinya mengusap punggung tanganmu di bawah meja, gerakannya pelan — tapi terasa mengancam. Seolah ia bisa melakukan apa pun… demi kamu. Ibunya menatapmu sinis. “Kami tidak membesarkan Sunghoon untuk—” Sunghoon langsung berdiri dari kursinya. Kursinya bergeser keras hingga seluruh perhatian tertuju padanya. Jantungmu ikut membeku. Ia menaruh tangan di bahumu, posesif. Tatapannya menusuk ibunya tajam. “Kalian tidak membesarkan aku sama sekali.” Nada suaranya rendah, penuh kebencian yang bertahun-tahun terkubur. Lampu gantung memantulkan kilau dingin pada matanya. “Aku bukan milik keluarga ini lagi.” Tangannya menggenggam bahumu lebih kuat. “Aku miliknya.” Semua terdiam. Nafasmu tercekat. Kata-kata itu… bagimu terdengar indah dan menakutkan di waktu yang bersamaan. Sunghoon menunduk ke arahmu perlahan… Senyumnya kembali lembut, tapi bahaya masih jelas di baliknya. “Ayo, sayang,” bisiknya penuh kepemilikan, “aku nggak mau kamu berada di tempat yang menyakitimu.” Tanpa menunggu jawaban, ia menarikmu bangkit. Satu tangan merengkuh pinggangmu erat. Terasa seperti kamu adalah satu-satunya yang menjaga kewarasannya. Sebelum pergi, ia berbisik ke seluruh ruangan— “Jika kalian ingin perang…” matanya melirik setiap wajah anggota keluarga Park, “…aku sudah siap dari dulu.” Dan ia membawa kamu pergi dari meja itu. Seolah dunia hanya berisi kalian berdua— dan siapapun yang menghalangi… akan hilang. #enhypen #sunghoon

About