@dreamysqueezes: 12 detergent bottles, 5 bottles of pop, 2 big ol palmolive ds bottles, and recycled powder😩😍 i posted the full live on my yt if u missed it! this is a comp of some jelly, powder, and ds bomb squeezes😉 #CleanTok #asmr #sponge #spongesqueezingasmr #clean #fyp #suds #powderbomb #pine #pinejelly

dreamysqueezes
dreamysqueezes
Open In TikTok:
Region: US
Saturday 05 April 2025 14:21:59 GMT
15805
1381
72
42

Music

Download

Comments

angiebwmvay
pastyge :
I love tht you added powder😍😍😍
2025-04-05 16:28:05
3
lovelycleans
lovelycleans✨ :
Stop I can’t believe I missed this😭
2025-04-05 14:28:33
2
pinefanatic
Pinefanatic 🌲 :
Did you do a rinse ?✨
2025-06-06 23:20:24
0
bacicarini
Delphin ฅᨐฅ🍹⛱️ :
OMMMGGGGGGG STAWWPPPPPPPPPP I MISSED ALL OF THIS MASTERPIECE I CANNOT 😭😭😭😭😭😭😭, LUCKILY U SHARED THIS OMLLLLLLLLLLLLLLL😻😻😻😻😻😻🤭🤭🤭🤭🤭!!! CUZ THIS WAS GEEWWDDDDDDDD🥵😻😻😻😻😻😻😻😻😻😻
2025-04-05 14:43:37
4
foxxiisqueezed
FOXxii🫧 :
😍😍😍
2025-04-08 02:56:10
1
habeshabarbiee
habeshabarbiee :
😍😍😍
2025-04-07 00:55:30
1
To see more videos from user @dreamysqueezes, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kebebasan tanpa tanggung jawab bukanlah kebebasan, melainkan kekacauan. Inilah ironi yang sering terjadi dalam dunia pendidikan dan pengasuhan hari ini: kita ingin anak tumbuh mandiri, tapi sering lupa menanamkan batas moral di balik kata “bebas”. Anak dibiarkan memilih, menolak, mengekspresikan diri, namun tidak selalu diajarkan apa konsekuensi dari setiap pilihan itu. Akhirnya, lahirlah generasi yang pintar menuntut hak tapi gagap memahami kewajiban. 1. Kebebasan bukan berarti tanpa batas Anak yang dibiarkan melakukan apa saja tanpa panduan akan sulit membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan. Misalnya, ketika anak dibiarkan bermain gadget sesuka hati atas nama “bebas berekspresi”, ia belum tentu mengerti bahwa tubuh dan pikirannya juga punya batas. Ia hanya tahu rasa senang, tapi belum memahami konsekuensi jangka panjang dari pilihannya. Di titik ini, tugas orang tua adalah menjelaskan makna batas. Bukan sebagai pengekangan, tetapi sebagai bentuk perlindungan. 2. Tanggung jawab lahir dari pemahaman sebab-akibat Anak tidak akan belajar tanggung jawab hanya dari nasihat, melainkan dari pengalaman menghadapi konsekuensi. Ketika ia lupa membawa buku ke sekolah dan diminta menulis ulang pelajaran oleh gurunya, di situ ia belajar bahwa setiap tindakan punya akibat. Dan pelajaran seperti ini jauh lebih membekas dibanding seribu kali kata “kamu harus hati-hati”. Dalam konteks ini, kebebasan menjadi ruang latihan yang sehat. Anak perlu mengalami hasil dari pilihannya agar mampu berpikir reflektif. Ia akan belajar menimbang, mengatur, dan memperbaiki diri. Proses ini membentuk karakter yang kuat—karakter yang memahami bahwa kebebasan sejati bukan soal berbuat sesuka hati, tapi berani menanggung hasil dari setiap keputusan. 3. Orang tua yang takut anaknya gagal justru menghambat kedewasaan Banyak orang tua yang terlalu cepat menolong ketika anaknya kesulitan, seolah tanggung jawab itu beban yang harus dihindari. Padahal, setiap kali kita mengambil alih tanggung jawab anak, kita sekaligus mengambil kesempatan mereka untuk tumbuh. Anak yang selalu “dibebaskan dari kesalahan” tidak akan pernah belajar kebebasan yang sejati. Sebaliknya, ketika anak diberi ruang untuk jatuh dan memperbaiki diri, ia belajar dua hal penting: bahwa kebebasan selalu datang dengan risiko, dan risiko itu bisa dihadapi dengan berpikir. Ini adalah bekal mental yang akan menjadikannya tahan banting dalam kehidupan nyata—di mana tak ada yang bisa sepenuhnya menghindar dari konsekuensi. 4. Kebebasan yang bertanggung jawab menumbuhkan empati sosial Anak yang paham tanggung jawab tidak hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Ia belajar bahwa tindakannya memengaruhi orang lain. Misalnya, ketika ia bermain bola di halaman dan memecahkan kaca tetangga, ia belajar meminta maaf dan memperbaikinya. Dari situ muncul empati—kesadaran bahwa setiap kebebasan punya dampak sosial. 5. Disiplin adalah bentuk tertinggi dari kebebasan  Anak yang disiplin belajar mengendalikan diri. Ia tahu kapan waktunya bermain, kapan waktunya belajar, kapan harus berhenti. Dari pengendalian diri itulah lahir kebebasan yang matang—karena ia tidak lagi diperintah oleh dorongan impulsif, melainkan kesadaran penuh. Anak yang mampu mengatur dirinya sendiri tidak membutuhkan pengawasan terus-menerus. Ia bisa dipercaya karena tahu apa yang benar, bukan karena takut dihukum. Dalam jangka panjang, anak semacam ini akan lebih mudah beradaptasi dengan dunia yang penuh kebebasan, karena sudah punya kompas moral di dalam dirinya. Nilai tidak perlu diajarkan lewat ceramah, cukup lewat teladan. Ketika orang tua menepati janji kecil seperti “nanti kita main sore ini”, anak belajar makna konsistensi dan kepercayaan.  Anak yang diberi ruang untuk bertanggung jawab atas kebebasannya akan tumbuh menjadi manusia yang tidak takut salah, tapi juga tidak sembrono. Ia belajar bahwa hidup bukan tentang menghindari kesalahan, melainkan belajar dari setiap konsekuensi yang muncul.
Kebebasan tanpa tanggung jawab bukanlah kebebasan, melainkan kekacauan. Inilah ironi yang sering terjadi dalam dunia pendidikan dan pengasuhan hari ini: kita ingin anak tumbuh mandiri, tapi sering lupa menanamkan batas moral di balik kata “bebas”. Anak dibiarkan memilih, menolak, mengekspresikan diri, namun tidak selalu diajarkan apa konsekuensi dari setiap pilihan itu. Akhirnya, lahirlah generasi yang pintar menuntut hak tapi gagap memahami kewajiban. 1. Kebebasan bukan berarti tanpa batas Anak yang dibiarkan melakukan apa saja tanpa panduan akan sulit membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan. Misalnya, ketika anak dibiarkan bermain gadget sesuka hati atas nama “bebas berekspresi”, ia belum tentu mengerti bahwa tubuh dan pikirannya juga punya batas. Ia hanya tahu rasa senang, tapi belum memahami konsekuensi jangka panjang dari pilihannya. Di titik ini, tugas orang tua adalah menjelaskan makna batas. Bukan sebagai pengekangan, tetapi sebagai bentuk perlindungan. 2. Tanggung jawab lahir dari pemahaman sebab-akibat Anak tidak akan belajar tanggung jawab hanya dari nasihat, melainkan dari pengalaman menghadapi konsekuensi. Ketika ia lupa membawa buku ke sekolah dan diminta menulis ulang pelajaran oleh gurunya, di situ ia belajar bahwa setiap tindakan punya akibat. Dan pelajaran seperti ini jauh lebih membekas dibanding seribu kali kata “kamu harus hati-hati”. Dalam konteks ini, kebebasan menjadi ruang latihan yang sehat. Anak perlu mengalami hasil dari pilihannya agar mampu berpikir reflektif. Ia akan belajar menimbang, mengatur, dan memperbaiki diri. Proses ini membentuk karakter yang kuat—karakter yang memahami bahwa kebebasan sejati bukan soal berbuat sesuka hati, tapi berani menanggung hasil dari setiap keputusan. 3. Orang tua yang takut anaknya gagal justru menghambat kedewasaan Banyak orang tua yang terlalu cepat menolong ketika anaknya kesulitan, seolah tanggung jawab itu beban yang harus dihindari. Padahal, setiap kali kita mengambil alih tanggung jawab anak, kita sekaligus mengambil kesempatan mereka untuk tumbuh. Anak yang selalu “dibebaskan dari kesalahan” tidak akan pernah belajar kebebasan yang sejati. Sebaliknya, ketika anak diberi ruang untuk jatuh dan memperbaiki diri, ia belajar dua hal penting: bahwa kebebasan selalu datang dengan risiko, dan risiko itu bisa dihadapi dengan berpikir. Ini adalah bekal mental yang akan menjadikannya tahan banting dalam kehidupan nyata—di mana tak ada yang bisa sepenuhnya menghindar dari konsekuensi. 4. Kebebasan yang bertanggung jawab menumbuhkan empati sosial Anak yang paham tanggung jawab tidak hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Ia belajar bahwa tindakannya memengaruhi orang lain. Misalnya, ketika ia bermain bola di halaman dan memecahkan kaca tetangga, ia belajar meminta maaf dan memperbaikinya. Dari situ muncul empati—kesadaran bahwa setiap kebebasan punya dampak sosial. 5. Disiplin adalah bentuk tertinggi dari kebebasan Anak yang disiplin belajar mengendalikan diri. Ia tahu kapan waktunya bermain, kapan waktunya belajar, kapan harus berhenti. Dari pengendalian diri itulah lahir kebebasan yang matang—karena ia tidak lagi diperintah oleh dorongan impulsif, melainkan kesadaran penuh. Anak yang mampu mengatur dirinya sendiri tidak membutuhkan pengawasan terus-menerus. Ia bisa dipercaya karena tahu apa yang benar, bukan karena takut dihukum. Dalam jangka panjang, anak semacam ini akan lebih mudah beradaptasi dengan dunia yang penuh kebebasan, karena sudah punya kompas moral di dalam dirinya. Nilai tidak perlu diajarkan lewat ceramah, cukup lewat teladan. Ketika orang tua menepati janji kecil seperti “nanti kita main sore ini”, anak belajar makna konsistensi dan kepercayaan. Anak yang diberi ruang untuk bertanggung jawab atas kebebasannya akan tumbuh menjadi manusia yang tidak takut salah, tapi juga tidak sembrono. Ia belajar bahwa hidup bukan tentang menghindari kesalahan, melainkan belajar dari setiap konsekuensi yang muncul.

About