@myrampatton: #aifilter

Lhuka me
Lhuka me
Open In TikTok:
Region: US
Friday 08 August 2025 14:56:25 GMT
984
4
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @myrampatton, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#pov : Abang Evan 03 Kalian akhirnya sampai di rumah sekitar jam setengah sepuluh malam. Udara dingin mulai menyusup lewat celah jendela mobil, bikin kamu menggigil kecil begitu turun. Evan sempat melirik sekilas ke arahmu yang memeluk diri sendiri sambil berjalan ke pintu.
#pov : Abang Evan 03 Kalian akhirnya sampai di rumah sekitar jam setengah sepuluh malam. Udara dingin mulai menyusup lewat celah jendela mobil, bikin kamu menggigil kecil begitu turun. Evan sempat melirik sekilas ke arahmu yang memeluk diri sendiri sambil berjalan ke pintu. "Lah, lo dingin banget. Kan udah gue bilang bawa jaket," katanya sambil membuka kunci rumah. "Kepikiran mau bawa tadi," jawabmu pelan, "tapi Abang buru-buru banget." "Alah, nyalahin gue lagi." Evan mendengus, tapi tangannya otomatis menyalakan penghangat ruangan dan mengambilkan handuk kecil di rak. "Udah, mandi air hangat dulu. Jangan langsung tidur." Kamu cuma mengangguk, lalu masuk ke kamar buat ganti baju. Setelah selesai, kamu keluar lagi. Evan yang sedang duduk di sofa ruang tengah langsung noleh. "Udah?" tanyanya. "Udah. Abang?" "Gue bentar lagi." Dia berdiri, melewati kamu sambil menepuk kepala pelan. "Keringin rambut lo bener-bener, nanti pusing lagi." Kamu mendengus kecil, tapi senyum juga. --- Beberapa menit kemudian, kamu udah rebahan di kamar sendiri. Lampu kamar cuma nyala redup. Udara dingin dari luar mulai terasa lagi. Sampai akhirnya... "DUARRR!" Petir besar menyambar, bikin seluruh kaca jendela bergetar. Kamu refleks menjerit kecil, langsung narik selimut sampai ke dada. "Astaga—!" Hujan turun deras banget di luar, suaranya sampai masuk ke kamar. Kamu berusaha tidur lagi, tapi setiap kali petir nyambar, kamu otomatis menutup telinga dan meringkuk lebih dalam. Nggak lama kemudian, pintu kamarmu diketuk dua kali. Tok-tok. "Lo belum tidur?" suara Evan terdengar pelan dari luar. Kamu buru-buru jawab, "U-udah kok!" "Boong. Suara lo aja geter." Pintu langsung terbuka, dan cowok itu muncul dengan kaus hitam longgar dan rambut yang masih agak basah. Dia nyengir dikit sambil melirik kamu yang meringkuk di bawah selimut. "Takut petir ya?" Kamu pura-pura cuek. "Nggak juga…cuman pernah liat di depan mata ada orang yang meninggal gara-gara kesamber petir." "Tuh," katanya sambil jalan masuk. "Kalo nggak takut, kenapa selimutnya ditarik sampe leher?" Kamu menunduk, pipimu udah merah lagi. "Abang, jangan ganggu. Aku mau tidur." "Tidur apaan, suara petirnya aja kayak konser sound horeg." Evan memutar bola matanya, lalu akhirnya nyerah. "Yaudah, pindah aja ke kamar gue dulu. AC-nya juga anget di sana." Kamu menatap dia, ragu. "Hah? Di kamar Abang?" "Iya, terus mau tidur di balkon gitu?" Dia melipat tangan di dada, nada suaranya menggoda. "Atau lo mau hantu yang nemenin di sini?" Kamu langsung gelagapan. "Nggak usah! Aku ikut!" --- Begitu masuk kamar Evan, kamu langsung disambut aroma maskulin dari parfumnya yang khas—campuran kayu dan citrus. Kamarnya lumayan rapi, cuma ada beberapa baju yang dilipat asal di kursi. Evan naik ke tempat tidur lebih dulu, bersandar santai sambil main ponsel. "Kalo lo takut, tidur aja. Gue nggak gigit." "Siapa juga yang takut…" Kamu mendengus, tapi tetap rebahan di sisi kasur yang paling pinggir, dengan posisi membelakangi dia. Beberapa menit berlalu dalam diam. Hujan makin deras, dan kamu mulai bisa tenang—sampai petir menyambar lagi. DUARRR! Kamu spontan menutup mata, tubuhmu sedikit merapat ke arah Evan tanpa sadar. Evan yang awalnya fokus ke ponsel langsung menoleh, melihat kamu yang udah meringkuk di pinggir kasur, matamu terpejam rapat. Dia mendesah kecil, lalu menaruh ponselnya di meja. Perlahan, dia menarik selimutmu sedikit, lalu menepuk bahumu pelan. "Udah, tenang. Gue di sini." Kamu membuka mata pelan. "Abang…" "Hm?" "Boleh… megang tangannya? Dikit aja?" Evan diam sebentar, lalu tanpa komentar langsung menggenggam tanganmu. Genggamannya hangat, kuat, tapi lembut. "Gini aja udah cukup?" tanyanya pelan. Kamu mengangguk, menatap jemarinya yang menaut di antara jemarimu. "Udah." "Yaudah, tidur." Dia menghela napas kecil, tapi senyum samar terlukis di wajahnya. "Besok kalo lo sakit gara-gara nggak tidur, gue nggak mau denger lo ngeluh, ya." "Iya, Abang cerewet." "Cerewet tapi sayang, kan?" (lanjut link bio) • • #fyp #enhypen #foryoupage #xyzabc

About