@af_farju_: #CapCut

_𝕋𝕒𝕊𝕦:)🌷
_𝕋𝕒𝕊𝕦:)🌷
Open In TikTok:
Region: BD
Wednesday 26 November 2025 06:09:32 GMT
484133
12667
96
986

Music

Download

Comments

sumiya4851
🥹 🫶🫶ADVOCATE SUMIYA🫶🫶🥹 :
কবে জামাই কে নিয়ে এমন ছবি তুলবো😫😫
2025-11-27 10:44:30
24
user7451254309428
~🦋Shubha~🦋 :
মনে হয় ভালোবাসা ❤️‍🩹🫶❤️‍🩹
2025-11-26 18:09:19
7
nabilalslam41
🌷M🌷 :
ভালোবাসা কানে দরছি আর না 😩🐸
2025-11-27 08:36:03
8
rukmisabha
rukmisabha 7183 :
গানটা কেমন জানি গভির না 🤔🤔
2025-11-27 09:22:06
5
5megconna
আরোহী অথৈ :
অনেক সুন্দর
2025-11-27 10:40:02
5
sanjanasorkerriya
🌷RIYA MONi🌷 :
আমার পতম বিডিও টায় দেকবেন 🙂🙂😌
2025-11-27 10:15:50
3
samiul.islam.isla83
( ◑_◑ ) 🖤*samuel*🖤 ( ◑_◑ ) :
সুখের ছোঁয়া দেবো তোমাই 🙂💔👍
2025-11-29 15:27:51
1
user1484606322479
Adiba-36 :
এইযে আইছে ছেছড়া কমেন্ট পড়তে…!🙂💔
2025-11-29 04:16:53
1
shahedurrahman053
🫥🐵 :
vabsilam video ta make kore husband er Story te dibo🙂 dimu na
2025-11-27 18:39:17
2
an.nishi1
ডুবাই প্রবাসীর বউ 🇦🇪🇦🇪🇦🇪 :
allhamdulila kore pelci
2025-11-28 08:56:40
1
nasrin3508
পরিবার ছোট মেয়ে :
রিপোর্ট কপি লিং করে দিলাম সাপোর্ট করেন
2025-11-27 11:25:39
4
cdbdvajdvnsb3
N̈ikhillee_🥲🎀 :
trending song.!!"✨️😫🫶🏻
2025-11-28 17:43:50
1
user9696718143080
🌼Cute Queen 🌼🌼 :
kobe ei sopno piron hobe...☺️
2025-11-28 03:52:33
1
atria.akter.masha
তোমার জন্য মরতে পারি 💔💔💔💔 :
আপু সাপোর্ট করেন প্লিজ
2025-11-29 05:45:04
0
mahdia38
@🥂🍒মায়াবতী🌸🌸 22 :
আপু একটু সাপোর্ট করেন 🥰🥰
2025-11-27 23:58:09
2
mdsohelmia3003
কিউট শেহজাদী :
খুব সুন্দর
2025-11-29 13:03:01
0
klsiyamislam
md Ikran Islam :
সাপোর্ট করবে 🥰
2025-11-26 17:28:25
6
pakhii408
ᴘᴀᴋʜɪ<3🕊️ :
@ko
2025-11-27 12:15:52
4
ariyan.vai.020
🗿মাফিয়া💥জগতের💥পোলা💯..🥷🥷 :
😅😅
2025-11-27 15:38:46
2
user8227819229361
@#@# :
কপিলিং ডান
2025-11-26 17:20:21
3
tanvir829544395
Tanvir ahmed :
কবে যে বউ নিয়ে এমন ছবি তুলেবো,,,,😩😄
2025-11-29 06:19:49
0
nusrat.jahan41154
🦋🦋Nusrat Jahan 🦋🦋 :
🥰🥰🥰
2025-11-26 10:54:57
6
jothiaktar66666
juthy akther :
🥰🥰🥰
2025-11-26 10:07:02
6
marziya.akter10
Marziya Akter :
🥰🥰🥰
2025-11-26 06:13:15
6
.adiba400
@your_rubel2025 :
💔🙏💔
2025-11-26 06:55:05
6
To see more videos from user @af_farju_, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV: Kembang Raga. (Part 2) Dua hari setelah kepulangan Raden Mahesa Adipati dari Alas Kulon, persiapan pernikahan Keraton Sukmaningrat dan Suryanegara mencapai puncaknya. Ritual pertama yang tak terhindarkan dan wajib dilakukan, adalah Siraman, penyucian diri yang melambangkan pengembalian diri pada kesucian sebelum memasuki gerbang pernikahan. Di Pendapa Keputren Keraton Suryanegara, Y/N duduk di atas dingklik kayu, tubuhnya dibalut kain kemben dan udik-udik yang telah dihiasi janur kuning. Suasana sakral terasa kental. Tujuh sumber air suci—yang salah satunya didatangkan dari Sendang Panguripan di dekat Alas Kulon—telah dicampur dengan aneka rupa kembang yang dibawa Mahesa, termasuk Kembang Purnama yang kini memancarkan aroma paling lembut. Dewi Paramita, ibunda Y/N, memulai ritual dengan menyiramkan air suci perlahan. Air matanya menetes bukan karena kesedihan, melainkan kelegaan. Ia tahu beban yang telah dipikul putrinya selama ini. “Nduk, anakku ayu… siramen kanthi banyu panguripan iki, resikan awak lan batinmu. Jodhomu wis teka, wong agung sing wis dibuktike dening alam,” bisiknya lirih. Saat giliran Mbah Wiranta, abdi dalem tua yang berpengetahuan luas, menyiramkan air, tiba-tiba langit yang tadinya cerah mendadak mendung. Bukan mendung gelap, melainkan awan tipis keperakan. “Gusti, kulo nyuwun pangapura,” ucap Mbah Wiranta sambil menggigil, matanya menatap tajam ke langit. Tiba-tiba, dari kendi terakhir, air yang dicampurkan ke tubuh Y/N tidak hanya dingin, melainkan terasa hangat. Y/N terkejut, namun tubuhnya terasa nyaman. Mbah Wiranta berlutut. “Nduk… sawangen tanganmu,” perintahnya. Di lengan Y/N, di mana air hangat itu mengalir, muncul guratan tipis berwarna keemasan, seperti ukiran kuno, lalu menghilang. “Iku tandha, Ndhuk. Tirta Kasat, restu saka Kahyangan. Leluhur wis masang tameng ning awakmu, kanggo njaga kowe saka pepadhane wong agung saka alas Kulon kuwi,” jelas Mbah Wiranta dengan suara bergetar penuh haru. Di Keraton Sukmaningrat, Mahesa juga menjalani siraman. Saat air dari tujuh sumber itu membasahi kepalanya, Mahesa merasakan hawa dingin yang menusuk. Dalam benaknya, ia kembali melihat bayangan raksasa pucat dan penari Barong dari Alas Kulon. Mereka seperti mengangguk hormat, bukan lagi menguji. Mereka telah mengakui perjuangannya. Prabu Adiningrat menatap putranya dengan bangga, lalu ia membisikkan sesuatu: “Le, sawise iki… dudu mung nyawa, nanging Keraton loro sing bakal mbok jago. Wis siap uripmu dienggo pangarepan wong akeh?” Mahesa membuka matanya, menatap wajah ayahnya dengan mata teguh. “Sampun, Rama. Kawula siap.” Pagi hari pernikahan, suasana Keraton Suryanegara benar-benar seperti panggung pewayangan. Ribuan rakyat berdiri di luar tembok keraton, berjejer rapi di sepanjang jalan, ingin melihat iring-iringan agung Raden Mahesa. Mereka berbisik penuh harap. “Mugi-mugi Raden Mahesa iso njaga Putri Y/N sing duwe waskita iku,” ujar seorang ibu paruh baya.  “Wis ditakdirke, Bu. Wong sing bali saka Alas Kulon mung siji tujuane, nggawa tentrem,” jawab seorang bapak tua. Di Bangsal Kencana, prosesi Ijab kabul dilangsungkan dengan khidmat. Mahesa, yang mengenakan busana pengantin Jawa berwarna hitam beludru dengan keris Kyai Jaladara terselip di pinggang, mengucapkan janji sucinya dengan satu tarikan napas. Saat Mahesa mengucapkan kalimat sakral, sebuah hal alus terjadi. Lampu-lampu minyak di sekeliling bangsal tiba-tiba berkedip-kedip kencang, dan angin kencang berputar hanya di bagian atap bangsal—seperti ada kekuatan tak kasat mata yang menentang. Mahesa merasakan tengkuknya merinding, namun ia memegang tangan penghulu dengan erat. Ia menguatkan hati, membayangkan wajah Y/N. “Kula tampa nikah lan kawine…” Di tengah kalimat itu, dari salah satu jendela, seekor burung hantu putih yang sangat besar terbang masuk, mengitari Mahesa sebanyak tiga kali, lalu terbang ke luar. Itu adalah burung hantu yang sama yang konon menjaga Alas Kulon. (lanjut di komen) ⚠JUST POV ⚠ #POV #HEESEUNG
POV: Kembang Raga. (Part 2) Dua hari setelah kepulangan Raden Mahesa Adipati dari Alas Kulon, persiapan pernikahan Keraton Sukmaningrat dan Suryanegara mencapai puncaknya. Ritual pertama yang tak terhindarkan dan wajib dilakukan, adalah Siraman, penyucian diri yang melambangkan pengembalian diri pada kesucian sebelum memasuki gerbang pernikahan. Di Pendapa Keputren Keraton Suryanegara, Y/N duduk di atas dingklik kayu, tubuhnya dibalut kain kemben dan udik-udik yang telah dihiasi janur kuning. Suasana sakral terasa kental. Tujuh sumber air suci—yang salah satunya didatangkan dari Sendang Panguripan di dekat Alas Kulon—telah dicampur dengan aneka rupa kembang yang dibawa Mahesa, termasuk Kembang Purnama yang kini memancarkan aroma paling lembut. Dewi Paramita, ibunda Y/N, memulai ritual dengan menyiramkan air suci perlahan. Air matanya menetes bukan karena kesedihan, melainkan kelegaan. Ia tahu beban yang telah dipikul putrinya selama ini. “Nduk, anakku ayu… siramen kanthi banyu panguripan iki, resikan awak lan batinmu. Jodhomu wis teka, wong agung sing wis dibuktike dening alam,” bisiknya lirih. Saat giliran Mbah Wiranta, abdi dalem tua yang berpengetahuan luas, menyiramkan air, tiba-tiba langit yang tadinya cerah mendadak mendung. Bukan mendung gelap, melainkan awan tipis keperakan. “Gusti, kulo nyuwun pangapura,” ucap Mbah Wiranta sambil menggigil, matanya menatap tajam ke langit. Tiba-tiba, dari kendi terakhir, air yang dicampurkan ke tubuh Y/N tidak hanya dingin, melainkan terasa hangat. Y/N terkejut, namun tubuhnya terasa nyaman. Mbah Wiranta berlutut. “Nduk… sawangen tanganmu,” perintahnya. Di lengan Y/N, di mana air hangat itu mengalir, muncul guratan tipis berwarna keemasan, seperti ukiran kuno, lalu menghilang. “Iku tandha, Ndhuk. Tirta Kasat, restu saka Kahyangan. Leluhur wis masang tameng ning awakmu, kanggo njaga kowe saka pepadhane wong agung saka alas Kulon kuwi,” jelas Mbah Wiranta dengan suara bergetar penuh haru. Di Keraton Sukmaningrat, Mahesa juga menjalani siraman. Saat air dari tujuh sumber itu membasahi kepalanya, Mahesa merasakan hawa dingin yang menusuk. Dalam benaknya, ia kembali melihat bayangan raksasa pucat dan penari Barong dari Alas Kulon. Mereka seperti mengangguk hormat, bukan lagi menguji. Mereka telah mengakui perjuangannya. Prabu Adiningrat menatap putranya dengan bangga, lalu ia membisikkan sesuatu: “Le, sawise iki… dudu mung nyawa, nanging Keraton loro sing bakal mbok jago. Wis siap uripmu dienggo pangarepan wong akeh?” Mahesa membuka matanya, menatap wajah ayahnya dengan mata teguh. “Sampun, Rama. Kawula siap.” Pagi hari pernikahan, suasana Keraton Suryanegara benar-benar seperti panggung pewayangan. Ribuan rakyat berdiri di luar tembok keraton, berjejer rapi di sepanjang jalan, ingin melihat iring-iringan agung Raden Mahesa. Mereka berbisik penuh harap. “Mugi-mugi Raden Mahesa iso njaga Putri Y/N sing duwe waskita iku,” ujar seorang ibu paruh baya. “Wis ditakdirke, Bu. Wong sing bali saka Alas Kulon mung siji tujuane, nggawa tentrem,” jawab seorang bapak tua. Di Bangsal Kencana, prosesi Ijab kabul dilangsungkan dengan khidmat. Mahesa, yang mengenakan busana pengantin Jawa berwarna hitam beludru dengan keris Kyai Jaladara terselip di pinggang, mengucapkan janji sucinya dengan satu tarikan napas. Saat Mahesa mengucapkan kalimat sakral, sebuah hal alus terjadi. Lampu-lampu minyak di sekeliling bangsal tiba-tiba berkedip-kedip kencang, dan angin kencang berputar hanya di bagian atap bangsal—seperti ada kekuatan tak kasat mata yang menentang. Mahesa merasakan tengkuknya merinding, namun ia memegang tangan penghulu dengan erat. Ia menguatkan hati, membayangkan wajah Y/N. “Kula tampa nikah lan kawine…” Di tengah kalimat itu, dari salah satu jendela, seekor burung hantu putih yang sangat besar terbang masuk, mengitari Mahesa sebanyak tiga kali, lalu terbang ke luar. Itu adalah burung hantu yang sama yang konon menjaga Alas Kulon. (lanjut di komen) ⚠JUST POV ⚠ #POV #HEESEUNG

About