@djha4rs: cukup y #ketuakadin #arsjadrasjid #foryou

ᴅᴊʜᴀɴᴢʏ 𝔣𝔱 4ʀs
ᴅᴊʜᴀɴᴢʏ 𝔣𝔱 4ʀs
Open In TikTok:
Region: ID
Wednesday 26 November 2025 16:32:24 GMT
2006
326
11
10

Music

Download

Comments

xwinrzy4
⏤͟͟͞͞»–Arsjad«✮» :
maksih foto ny🫰
2025-11-26 22:44:56
1
ale111099
Emon :
Gantengnya ya Allah
2025-11-26 22:01:58
0
moh.arsjadrasjid
user44490833914 :
wih boleh ni min?😅
2025-11-28 01:59:02
0
rajamah84
rajemah nor :
🤲🤲🤲alhmdulillh....
2025-11-26 23:03:40
0
hjanikartini.ani
Hjanikartini Ani :
selamat subuh,bpk ganteng pantes juga jadi imam dunia akhirat
2025-11-26 21:50:50
0
wanda83217
Wanda8321 :
duh Dad pagi yg cerah moga penuh dgn senyum manis mu☺
2025-11-26 23:52:21
0
yudhi.mmd
Yudhi.md :
versi mamg toni dong🤭
2025-11-28 14:23:15
0
khunnaingtun621
ทู Khun Naing Tun :
😘😘😘
2025-11-29 01:33:59
0
nedi_ajeh
Nedi_ajeh :
🥰🥰🥰
2025-11-28 14:54:41
0
khunnaingtun621
ทู Khun Naing Tun :
😘😘😘
2025-11-27 00:49:49
0
To see more videos from user @djha4rs, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pertempuran di Sunda Kelapa antara Fatahillah dan Portugis. ​Peristiwa 22 Juni 1527: Kemenangan Gemilang di Sunda Kelapa ​Pertempuran di Sunda Kelapa pada tahun 1527 merupakan titik balik penting dalam sejarah Nusantara, menandai kegagalan ekspansi Portugis di Jawa bagian barat dan lahirnya sebuah kota yang kelak menjadi Jakarta. Pertempuran ini terjadi karena adanya perjanjian aliansi politik dan dagang antara Kerajaan Sunda Pajajaran dengan Portugis. ​Latar Belakang Konflik ​Pada awal abad ke-16, Kesultanan Demak dan Cirebon muncul sebagai kekuatan Islam yang mendominasi pantai utara Jawa, mengancam Kerajaan Hindu Pajajaran. Khawatir pelabuhan dagang utamanya, Sunda Kelapa, jatuh ke tangan Islam, Raja Sunda, Prabu Surawisesa, mencari bantuan militer. ​Pada tahun 1522, Kerajaan Sunda menandatangani perjanjian dengan Portugis. Isi perjanjian tersebut mengizinkan Portugis mendirikan loji (kantor dagang) dan sebuah benteng di Sunda Kelapa sebagai imbalan atas bantuan militer untuk menghadapi Demak. Sebagai tanda perjanjian, didirikanlah sebuah tugu batu peringatan yang dikenal sebagai Padrao . ​Strategi dan Penyerangan Fatahillah ​Perjanjian Sunda-Portugis ini dipandang sebagai ancaman serius oleh Kesultanan Demak dan Cirebon. Mereka tidak ingin kekuatan Eropa bercokol di Jawa, mengganggu jalur perdagangan dan penyebaran Islam. ​Fatahillah (juga dikenal sebagai Falatehan), seorang panglima perang yang dikirim oleh Kesultanan Demak, ditugaskan untuk memimpin armada gabungan Demak-Cirebon. Sebelum tiba di Sunda Kelapa, Fatahillah berhasil merebut pelabuhan penting lainnya, seperti Banten. ​Mendengar bahwa bala bantuan Portugis dari Malaka terlambat datang, Fatahillah segera melancarkan serangan ke Sunda Kelapa. Serangan dilakukan secara mendadak dan cepat. ​Puncak Pertempuran dan Kemenangan ​Pada tanggal 22 Juni 1527, pasukan Fatahillah menyerang pelabuhan Sunda Kelapa. Pasukan yang ditempatkan oleh Kerajaan Sunda tidak mampu menahan gempuran tersebut. ​Ketika kapal-kapal Portugis yang dipimpin oleh Francisco de Sa tiba di pelabuhan untuk memenuhi janji pembangunan benteng, mereka terkejut mendapati Sunda Kelapa telah dikuasai. Pasukan Portugis yang berusaha mendarat langsung mendapat perlawanan sengit dari pasukan Fatahillah dan dipukul mundur. Banyak tentara Portugis yang tewas dalam pertempuran tersebut. ​Lahirnya Jayakarta ​Kemenangan ini merupakan prestasi besar bagi Fatahillah. Ia berhasil menggagalkan rencana kolonisasi Portugis di Jawa dan mengamankan jalur perdagangan Islam di wilayah barat. ​Untuk merayakan kemenangan gemilang tersebut, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang berarti
Pertempuran di Sunda Kelapa antara Fatahillah dan Portugis. ​Peristiwa 22 Juni 1527: Kemenangan Gemilang di Sunda Kelapa ​Pertempuran di Sunda Kelapa pada tahun 1527 merupakan titik balik penting dalam sejarah Nusantara, menandai kegagalan ekspansi Portugis di Jawa bagian barat dan lahirnya sebuah kota yang kelak menjadi Jakarta. Pertempuran ini terjadi karena adanya perjanjian aliansi politik dan dagang antara Kerajaan Sunda Pajajaran dengan Portugis. ​Latar Belakang Konflik ​Pada awal abad ke-16, Kesultanan Demak dan Cirebon muncul sebagai kekuatan Islam yang mendominasi pantai utara Jawa, mengancam Kerajaan Hindu Pajajaran. Khawatir pelabuhan dagang utamanya, Sunda Kelapa, jatuh ke tangan Islam, Raja Sunda, Prabu Surawisesa, mencari bantuan militer. ​Pada tahun 1522, Kerajaan Sunda menandatangani perjanjian dengan Portugis. Isi perjanjian tersebut mengizinkan Portugis mendirikan loji (kantor dagang) dan sebuah benteng di Sunda Kelapa sebagai imbalan atas bantuan militer untuk menghadapi Demak. Sebagai tanda perjanjian, didirikanlah sebuah tugu batu peringatan yang dikenal sebagai Padrao . ​Strategi dan Penyerangan Fatahillah ​Perjanjian Sunda-Portugis ini dipandang sebagai ancaman serius oleh Kesultanan Demak dan Cirebon. Mereka tidak ingin kekuatan Eropa bercokol di Jawa, mengganggu jalur perdagangan dan penyebaran Islam. ​Fatahillah (juga dikenal sebagai Falatehan), seorang panglima perang yang dikirim oleh Kesultanan Demak, ditugaskan untuk memimpin armada gabungan Demak-Cirebon. Sebelum tiba di Sunda Kelapa, Fatahillah berhasil merebut pelabuhan penting lainnya, seperti Banten. ​Mendengar bahwa bala bantuan Portugis dari Malaka terlambat datang, Fatahillah segera melancarkan serangan ke Sunda Kelapa. Serangan dilakukan secara mendadak dan cepat. ​Puncak Pertempuran dan Kemenangan ​Pada tanggal 22 Juni 1527, pasukan Fatahillah menyerang pelabuhan Sunda Kelapa. Pasukan yang ditempatkan oleh Kerajaan Sunda tidak mampu menahan gempuran tersebut. ​Ketika kapal-kapal Portugis yang dipimpin oleh Francisco de Sa tiba di pelabuhan untuk memenuhi janji pembangunan benteng, mereka terkejut mendapati Sunda Kelapa telah dikuasai. Pasukan Portugis yang berusaha mendarat langsung mendapat perlawanan sengit dari pasukan Fatahillah dan dipukul mundur. Banyak tentara Portugis yang tewas dalam pertempuran tersebut. ​Lahirnya Jayakarta ​Kemenangan ini merupakan prestasi besar bagi Fatahillah. Ia berhasil menggagalkan rencana kolonisasi Portugis di Jawa dan mengamankan jalur perdagangan Islam di wilayah barat. ​Untuk merayakan kemenangan gemilang tersebut, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang berarti "Kota Kemenangan yang Gemilang." Tanggal 22 Juni 1527 inilah yang kemudian diperingati sebagai hari lahir Kota Jakarta. ​Meskipun Portugis telah menaklukkan Malaka dan membangun benteng di banyak wilayah Nusantara bagian timur, mereka tidak pernah berhasil menancapkan kekuasaan permanen di Jawa, terutama setelah kekalahan telak di Jayakarta. #fatahillah #fransiscodesa #portugal #jayakarta #sundakelapa

About