@gombalbodoh: CIKOPLAY JEUNG DJISAMSAY #mamaghufron #uniq #bahasasuryani #fypシ゚viral

Gombal Bodoh
Gombal Bodoh
Open In TikTok:
Region: ID
Saturday 29 November 2025 06:13:05 GMT
548833
16474
893
12068

Music

Download

Comments

darah_wolf
L :
kumaha sia we Gufron jungler
2025-11-30 02:35:14
1
gamb175
Nonsense33 :
di kokop gupron
2025-11-29 06:47:43
376
ajuan032
Ajuan :
bubungulan bangsai
2025-11-30 02:32:02
0
rdwn14269
rdwn :
ternyata di bisa bahasa Mandarin jug😭😭😭😭😭
2025-11-29 15:11:09
2
nataalia16_00
i'm natalia :
yg ngerti brarti keturunan bangsa suriyani
2025-11-29 23:37:04
9
_fauzi_47
Fauzi akhmad :
Sehat sehat Gus
2025-11-29 23:53:04
0
bryanasep0
アセプ :
Gufroy jiga kufroy
2025-11-29 18:39:41
0
lannnnkioway
LannnnKioway :
Bgini aja banyak pengikutnya. Ga heran nnti dakjal banyak pengikutnya
2025-11-29 10:04:50
6
apa_itu_toleransi
tiada lagi yang ku harapkan :
pengen gitu 5 menitvaja, ktmu sama org ini di tempat sepi
2025-11-29 07:09:16
3
arlan_221
ARLAN_07 :
di eps berapa dia terjatuh di kamar mandi?
2025-11-29 15:45:59
0
anndiirra
ilaaaaaaaa :
kmh sia we gufroy
2025-11-29 15:18:05
1
heru.rustandi0
Heru Rustandi :
ijin save ya bos asa genahen
2025-11-29 11:32:59
1
ratna.brebes
ratna Brebes :
😂 iklannya cikkoplai paring ngacai pinter sekali bhsnya
2025-11-30 01:12:07
3
edih.tea.com
Edih Tea com :
pantun apa puisi
2025-11-29 14:11:54
0
soehoodap
vampire :
saingan nasihuy
2025-11-30 01:48:56
2
zahdan_alyssa
Rachman :
jenglot lagi kacau.
2025-11-29 12:22:57
3
dhenz_shenz
D'dHenZ_××××× :
ilusi ieu mah euy...
2025-11-30 01:02:31
0
bangilhamdoclo
Dihap😁 :
bahasa baru ini,bahasa Suryati namanya😁😁
2025-11-30 01:47:05
0
ifrmdn
KANZHOT :
kopi bersama djisamsu...
2025-11-30 01:07:54
1
taofikrijal191
prisya 2016 :
aki aki sableng
2025-11-29 12:00:34
11
hndyzkyptr
zak :
bahasa pocong
2025-11-30 02:27:44
0
sevirgokeyzura57
Sevirgo keyzura :
hadeuh
2025-11-30 03:11:19
0
jackreaper20
J :
baru tau kalo ada bhs kopi
2025-11-30 02:42:41
0
ninaar199
Bang jarot shee :
ini species satu pandai betul bikin bahasa😅
2025-11-30 02:55:22
0
twenty.nineties
forgiveness :
Anjaaayy djisamsay 😭😭😭😭
2025-11-29 22:33:43
2
To see more videos from user @gombalbodoh, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Oleh: Mr. Lee Ada tragedi yang membuat nurani kita remuk sekaligus bertanya: seberapa murah harga nyawa di negeri ini? Jawabannya, lagi-lagi, tampaknya tak lebih mahal dari segepok uang titipan yang tak sampai belasan juta rupiah. Seorang pedagang sekolah, N (59), tewas bukan di jalanan gelap, bukan di tengah cekcok sengit, bukan pula dalam aksi kriminal terencana ala film kriminal murahan. Ia tewas saat bersujud—posisi paling rendah di hadapan Tuhan, tapi paling tinggi martabatnya dalam ibadah. Ironisnya, justru pada momen itulah nyawanya dicabut dengan cara paling hina: dihantam balok oleh seorang yang ia percayai, seorang wali murid, NAF. Sengketa uang memang sering menjadi pemantik tragedi. Tapi kali ini levelnya berbeda. Ini bukan sekadar utang–piutang; ini tentang kepercayaan yang dipatahkan, tentang moralitas yang remuk, tentang seseorang yang memilih menjadi algojo saat tamunya sedang shalat di rumahnya. Ada kepiluan berlapis di sini: – Korban datang dengan etikanya—menagih dengan sopan, menunggu hujan reda, bahkan meminta izin shalat. – Pelaku, sebaliknya, menjawab kegelisahan ekonomi dengan kebiadaban. – Dan masyarakat? Kembali tercengang, lagi-lagi menyaksikan nyawa dipangkas hanya karena nominal recehan dalam konteks kriminal besar. Yang paling menusuk adalah fakta bahwa NAF bukan orang asing. Wali murid. Orang tua dari anak yang mungkin pernah membeli jajanan dari korban. Hubungan sosial yang seharusnya saling menopang, malah menjelma menjadi jerat kematian. Kasus ini bukan sekadar kriminal. Ini potret retaknya moral, rapuhnya kontrol diri, dan betapa bahaya jika frustasi ekonomi tidak dibarengi integritas. Negara bisa membuat pasal dan jerat hukum, namun siapa yang bisa mengembalikan nurani yang keburu beku? Di tengah banyaknya kasus pembunuhan karena uang, tragedi ini berdiri sebagai peringatan keras: ketika utang menjadi alasan, dan ibadah menjadi kesempatan, maka yang mematikan bukan pelakunya—tetapi hilangnya kemanusiaan itu sendiri.
Oleh: Mr. Lee Ada tragedi yang membuat nurani kita remuk sekaligus bertanya: seberapa murah harga nyawa di negeri ini? Jawabannya, lagi-lagi, tampaknya tak lebih mahal dari segepok uang titipan yang tak sampai belasan juta rupiah. Seorang pedagang sekolah, N (59), tewas bukan di jalanan gelap, bukan di tengah cekcok sengit, bukan pula dalam aksi kriminal terencana ala film kriminal murahan. Ia tewas saat bersujud—posisi paling rendah di hadapan Tuhan, tapi paling tinggi martabatnya dalam ibadah. Ironisnya, justru pada momen itulah nyawanya dicabut dengan cara paling hina: dihantam balok oleh seorang yang ia percayai, seorang wali murid, NAF. Sengketa uang memang sering menjadi pemantik tragedi. Tapi kali ini levelnya berbeda. Ini bukan sekadar utang–piutang; ini tentang kepercayaan yang dipatahkan, tentang moralitas yang remuk, tentang seseorang yang memilih menjadi algojo saat tamunya sedang shalat di rumahnya. Ada kepiluan berlapis di sini: – Korban datang dengan etikanya—menagih dengan sopan, menunggu hujan reda, bahkan meminta izin shalat. – Pelaku, sebaliknya, menjawab kegelisahan ekonomi dengan kebiadaban. – Dan masyarakat? Kembali tercengang, lagi-lagi menyaksikan nyawa dipangkas hanya karena nominal recehan dalam konteks kriminal besar. Yang paling menusuk adalah fakta bahwa NAF bukan orang asing. Wali murid. Orang tua dari anak yang mungkin pernah membeli jajanan dari korban. Hubungan sosial yang seharusnya saling menopang, malah menjelma menjadi jerat kematian. Kasus ini bukan sekadar kriminal. Ini potret retaknya moral, rapuhnya kontrol diri, dan betapa bahaya jika frustasi ekonomi tidak dibarengi integritas. Negara bisa membuat pasal dan jerat hukum, namun siapa yang bisa mengembalikan nurani yang keburu beku? Di tengah banyaknya kasus pembunuhan karena uang, tragedi ini berdiri sebagai peringatan keras: ketika utang menjadi alasan, dan ibadah menjadi kesempatan, maka yang mematikan bukan pelakunya—tetapi hilangnya kemanusiaan itu sendiri.

About